Fenomena Rojali dan Rohana Cermin Gaya Belanja Konsumen Era Digital, Mendag Dorong Strategi Hybrid Omni Channel
Buletindewata.id, Badung - Belakangan ini, pusat perbelanjaan atau mal di berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, hingga destinasi wisata populer seperti Bali mengalami fenomena unik yang menyita perhatian pelaku usaha dan pemerintah. Di tengah maraknya transformasi digital dan meningkatnya minat belanja online, muncul tren baru di masyarakat yang dikenal sebagai ROJALI (Rombongan Jarang Beli) dan ROHANA (Rombongan Hanya Nanya). Fenomena ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen Indonesia dalam menjelajahi dunia belanja yang semakin terkoneksi secara digital.
Rojali & Rohana: Antara Belanja dan Berkunjung ke Mal
Pada dasarnya, Rojali dan Rohana adalah istilah populer yang menggambarkan kelompok orang yang datang ke mal bukan untuk berbelanja, melainkan hanya untuk melihat-lihat atau menanyakan harga dan spesifikasi barang—tanpa melakukan transaksi langsung. Mereka datang berbondong-bondong, menciptakan suasana ramai di pusat perbelanjaan, namun kontribusinya terhadap penjualan belum tentu signifikan.
Fenomena ini menjadi semakin umum, terutama di kota-kota besar dan kawasan pariwisata seperti Bali. Para pengunjung mal tampaknya menjadikan toko fisik sebagai tempat untuk "riset lapangan" sebelum melakukan pembelian secara online.
Perubahan Perilaku Konsumen di Era Digital
Menurut Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Budi Santoso, perubahan perilaku belanja masyarakat sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan akses digital yang kian meluas. Kini konsumen lebih cenderung mengunjungi toko offline untuk melihat langsung kondisi fisik produk, membandingkan harga dan mencari diskon terbaik melalui platform e-commerce hingga melakukan pembelian secara online karena dinilai lebih praktis dan efisien
Dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Badung, Bali, Mendag Budi Santoso menjelaskan bahwa perilaku ini adalah hasil dari integrasi antara dunia fisik dan digital. Konsumen bebas mengeksplorasi berbagai pilihan, baik secara langsung maupun melalui smartphone mereka.
“Konsumen itu bebas. Bebas datang ke tempat untuk melihat, membandingkan, lalu membeli. Kadang mereka lihat dulu di toko, baru belinya secara online. Dari sinilah muncul konsep hybrid omni channel,” ujar Mendag Budi Santoso.
Strategi Hybrid Omni Channel: Solusi Relevan untuk Pelaku Usaha
Menanggapi dinamika tersebut, Kementerian Perdagangan mendorong pelaku usaha untuk mengadaptasi dan mengembangkan strategi Hybrid Omni Channel Commerce, yaitu model bisnis yang menggabungkan penjualan offline dan online secara simultan. Strategi ini tidak hanya menjaga eksistensi toko fisik, tetapi juga memperkuat daya saing melalui kanal digital yang responsif dan fleksibel.
Bahkan dalam praktiknya, strategi ini telah dijalankan oleh berbagai brand besar yang kini mengintegrasikan pengalaman belanja langsung dan digital dengan mulus. Misalnya, menyediakan QR Code untuk transaksi cepat, layanan chat untuk konsultasi produk, hingga sistem pemesanan online dengan pengambilan di toko.
Peluang Baru bagi Dunia Bisnis
Fenomena Rojali dan Rohana bukanlah ancaman bagi bisnis retail, melainkan peluang besar yang belum banyak dimanfaatkan secara maksimal. Kunjungan fisik ke mal tetap membawa dampak positif, baik dari sisi branding, pengalaman pelanggan, hingga potensi konversi penjualan online.
Dengan memahami dan merespons perubahan gaya belanja ini, pelaku usaha memiliki kesempatan untuk:meningkatkan visibilitas produk secara offline untuk menarik minat pelanggan
Era Baru Belanja, Peran Mal Tetap Vital
Meskipun belanja online terus mengalami pertumbuhan pesat, keberadaan mal atau pusat perbelanjaan tetap memiliki peran penting sebagai tempat interaksi sosial, pencarian informasi, dan pengalaman belanja langsung. Fenomena Rojali dan Rohana menegaskan bahwa konsumen saat ini cerdas dan selektif dalam membuat keputusan.
Dengan strategi hybrid omni channel, pelaku usaha dapat mengubah tantangan menjadi peluang emas. Di masa depan, toko fisik dan digital bukanlah dua dunia yang terpisah, melainkan satu ekosistem dinamis yang saling melengkapi. (blt)
Posting Komentar untuk "Fenomena Rojali dan Rohana Cermin Gaya Belanja Konsumen Era Digital, Mendag Dorong Strategi Hybrid Omni Channel"