Ritual Nyangling di Pura Dalem Pingitan, Warga Banjar Tangayuda Bongkasa Abiansemal Badung Bali Siap Gelar Karya Padudusan Agung 2026
Buletindewata.id, Badung - Ritual keagamaan di Bali selalu menjadi magnet spiritual sekaligus budaya yang mengundang perhatian banyak orang. Salah satu prosesi sakral yang baru saja dilaksanakan adalah Upacara Nyangling di Pura Dalem Pingitan, yang digelar oleh warga Banjar Tangayuda, Desa Bongkasa Abiansemal, Badung, Bali. Upacara ini bukan sekadar ritual biasa, melainkan bagian penting dari rangkaian menuju Karya Padudusan Agung yang akan dilaksanakan pada 3 Juni 2026 mendatang.
Nyangling, yang juga dikenal dengan istilah Ngingasah, merupakan sebuah ritual penyucian sarana upakara dan bahan banten yang akan dipersembahkan dalam karya besar. Prosesi ini diyakini sebagai langkah awal untuk memastikan bahwa seluruh perlengkapan upacara benar-benar suci, bersih, dan layak dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam tradisi Hindu Bali, kesucian sarana upakara menjadi fondasi utama agar yadnya yang dilakukan benar-benar bermakna dan penuh keberkahan.
Sejak pagi hari, ratusan warga pengempon pura tampak hadir dengan penuh antusias. Mereka membawa perlengkapan upacara, mengikuti prosesi dengan khidmat, dan menunjukkan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Bali. Tercatat, sebanyak 227 kepala keluarga turut serta dalam kegiatan ini, menegaskan betapa kuatnya ikatan spiritual dan sosial di Banjar Tangayuda.
Upacara Nyangling hanyalah salah satu tahapan dari rangkaian panjang menuju Karya Padudusan Agung. Dalam tradisi Bali, karya besar seperti ini biasanya melibatkan beberapa prosesi penting, di antaranya. Ngenteg Linggih: prosesi peneguhan kedudukan Dewa-Dewi di pura. Mepeselang: ritual penyucian dan penyeimbangan energi. Menawa Ratna: persembahan suci yang melambangkan kemurnian dan keindahan. Tawur Pedanan: upacara penyelarasan alam semesta agar tercipta keseimbangan antara buana alit (mikrokosmos) dan buana agung (makrokosmos).
Semua rangkaian ini akan berpuncak pada Rabu, 3 Juni 2026, sebuah hari yang diyakini penuh keberkahan.
Tidak hanya ritual penyucian, prosesi Nyangling juga diiringi dengan tari wali sebagai bentuk pemujaan. Tari-tarian sakral seperti Rejang Dewa, Baris, dan Topeng dipentaskan dengan penuh penghayatan. Kehadiran seni sakral ini menambah kekhidmatan sekaligus memperkuat nuansa spiritual upacara.
Tari Rejang Dewa, misalnya, dikenal sebagai tarian persembahan yang dibawakan oleh para wanita dengan gerakan lembut dan penuh kesucian. Sementara Tari Baris melambangkan semangat kepahlawanan, dan Tari Topeng menghadirkan simbolisasi tokoh-tokoh leluhur. Semua tarian ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian integral dari ritual yang menyatukan seni, budaya, dan spiritualitas.
Ketua Panitia Karya, I Wayan Sunarka, menjelaskan bahwa perbaikan madya dan utama mandala Pura Dalem Pingitan dibiayai dari dana swadaya masyarakat serta dukungan Pemerintah Kabupaten Badung dengan total mencapai 6,5 miliar rupiah.
“Kami bersama seluruh warga Banjar Tangayuda melaksanakan karya ini dengan penuh rasa tulus ikhlas. Dana yang terkumpul berasal dari swadaya masyarakat dan dukungan pemerintah. Harapan kami, keberadaan Pura Dalem Pingitan semakin disucikan, sehingga warga mendapat anugerah keselamatan dan kesejahteraan”, ungkapnya.
Prosesi Nyangling dilanjutkan dengan persembahyangan bersama yang dipimpin oleh sulinggih dan para pemangku. Setelah sembahyang, warga mengikuti Dharma Wacana yang disampaikan oleh Ida Pedanda Putra Watu Lumbang dari Griya Gede Baha. Dharma Wacana ini memberikan pencerahan spiritual, mengingatkan warga akan pentingnya menjaga keseimbangan hidup, serta meneguhkan keyakinan dalam menjalani yadnya.
Semangat kebersamaan dan gotong royong tampak jelas dalam setiap tahapan prosesi. Warga Banjar Tangayuda bekerja sama, saling membantu, dan meneguhkan komitmen untuk menjaga warisan budaya serta spiritual Bali. Gotong royong bukan hanya menjadi tradisi, tetapi juga filosofi hidup yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Upacara Nyangling di Pura Dalem Pingitan bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga simbol pelestarian budaya Bali. Di tengah arus modernisasi, masyarakat Bali tetap teguh menjaga tradisi leluhur. Ritual seperti ini menjadi bukti nyata bahwa spiritualitas dan budaya dapat berjalan beriringan, memberikan identitas sekaligus kekuatan bagi masyarakat.
Selain itu, prosesi ini juga menjadi daya tarik wisata budaya. Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang tertarik menyaksikan keunikan ritual Bali. Dengan tetap menjaga kesakralan, upacara seperti Nyangling dapat menjadi sarana edukasi sekaligus promosi budaya Bali di mata dunia.
Dengan digelarnya upacara Nyangling, warga Banjar Tangayuda berharap karya besar Padudusan Agung nanti berjalan lancar, penuh berkah, dan membawa keselamatan bagi seluruh umat. Lebih dari itu, mereka berharap tradisi ini terus dilestarikan, menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. (blt)


Posting Komentar untuk "Ritual Nyangling di Pura Dalem Pingitan, Warga Banjar Tangayuda Bongkasa Abiansemal Badung Bali Siap Gelar Karya Padudusan Agung 2026"