Poltekpar Bali Tingkatkan Kapasitas ASN Melalui Studi Lapangan di Destinasi Wisata Unggulan Bali Selatan
Buletindewata.id,Badung - Dalam upaya memperkuat sumber daya manusia sektor pariwisata, Politeknik Pariwisata Bali (Poltekpar Bali) menyelenggarakan _Diklat Pariwisata Dasar untuk puluhan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari tiga kabupaten di Bali yakni Tabanan, Bangli, dan Klungkung. Program ini berlangsung intensif selama lima hari, mulai dari 21 hingga 25 Juli 2025, sebagai bagian dari kebijakan nasional Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam pengembangan SDM pariwisata secara merata di seluruh Indonesia.
Salah satu titik penting dalam kegiatan Diklat adalah studi lapangan ke destinasi wisata Gunung Payung, berlokasi di Desa Kutuh, Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Gunung Payung bukan hanya menawarkan panorama alam yang memukau, tetapi juga menjadi contoh nyata destinasi wisata berbasis masyarakat yang dikelola dengan pendekatan berkelanjutan dan inklusif. Para peserta Diklat mendapatkan pemahaman langsung mengenai pengelolaan kawasan wisata secara profesional serta peran penting Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kutuh dalam mengembangkan layanan pariwisata inovatif dan responsif terhadap kebutuhan wisatawan.
Sebagai bentuk pendalaman materi, para ASN tidak hanya mendengarkan paparan, tetapi juga terlibat dalam diskusi interaktif bersama pengelola destinasi. Mereka mempelajari bagaimana kolaborasi antara pemerintah desa, BUMDes, dan masyarakat lokal menjadi faktor kunci dalam keberhasilan destinasi wisata Gunung Payung.
Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari pelatihan di kampus Poltekpar Bali dan kunjungan awal ke Pantai Pandawa yang juga terletak di Desa Kutuh. Pantai Pandawa dikenal sebagai contoh sukses transformasi pariwisata berbasis komunitas. Dahulu terpencil dan kurang dikenal, kini Pantai Pandawa menjadi magnet wisatawan lokal dan internasional berkat pemberdayaan masyarakat dan kebijakan desa yang progresif.
Dalam sesi pembelajaran di lokasi, para peserta mempelajari tiga aspek utama penguatan sektor pariwisata, yakni aspek destinasi, aspek Pemasaran, dan aspek Industri.
“Ketika peserta ASN kembali ke daerahnya masing-masing, mereka diharapkan membawa serta model pengembangan pariwisata baru yang lebih kreatif, inovatif, dan relevan dengan tuntutan zaman,” ujar Ni Kadek Swandewi, S.Tr.Par., M.Par., Wakil Ketua Pelaksana Diklat Pardas 2025 Poltekpar Bali. Ia menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian penting dari proses capacity building aparatur negara dalam menghadapi tantangan pariwisata modern.
Dengan latar belakang beragam, para ASN peserta pelatihan memiliki peran strategis di masing-masing Dinas Pariwisata. Melalui pendekatan pelatihan berbasis kebutuhan daerah, mereka dilatih untuk mengenali potensi lokal, merumuskan strategi promosi, serta mengembangkan layanan wisata berbasis teknologi dan komunitas.
Poltekpar Bali menunjukkan komitmennya untuk terus mendukung peningkatan kapasitas SDM pariwisata di berbagai daerah. Program Diklat Pardas ini dirancang dengan pendekatan kolaboratif, melibatkan akademisi, praktisi industri, pengelola destinasi, serta para pemangku kebijakan di tingkat lokal. Tujuan utamanya adalah mendorong terciptanya ekosistem pariwisata yang inovatif, partisipatif, dan ramah lingkungan.
Melalui kegiatan ini, Poltekpar Bali juga mendorong implementasi prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, yaitu pelestarian budaya lokal dan ekosistem alam, pemanfaatan teknologi dalam promosi dan manajemen pariwisata, pemberdayaan masyarakat sebagai pelaku utama pariwisata, dan penguatan sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan lembaga pendidikan.
Diklat Pariwisata Dasar ini bukan hanya transfer pengetahuan, melainkan juga media inspirasi bagi ASN untuk mengembangkan pariwisata daerahnya secara mandiri. Harapannya, studi lapangan ini menghasilkan output berupa kebijakan atau program yang mampu mendorong tumbuhnya desa wisata baru, mengembangkan atraksi yang unik, serta menciptakan layanan wisata yang ramah, profesional, dan berdaya saing global.
Bali sebagai "living laboratory" pariwisata Indonesia memberikan banyak pelajaran bagi daerah lainnya. Melalui pengalaman langsung di lapangan, peserta diklat memiliki perspektif baru dalam memahami dinamika industri pariwisata yang kompleks, mulai dari pengelolaan destinasi, pemasaran digital, hingga pelayanan wisata yang humanis dan berkualitas.(blt)


Posting Komentar untuk "Poltekpar Bali Tingkatkan Kapasitas ASN Melalui Studi Lapangan di Destinasi Wisata Unggulan Bali Selatan"