Konferensi Neurovascular BLINC 2026 di Bali, Dorong Penanganan Kasus Stroke di Indonesia dan Dunia
Buletindewata.id, Badung - setelah sukses besar pada penyelenggaraan perdana tahun 2024, Bali International Neurovascular Intervention Conference (BLINC) kembali digelar di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, 27–28 April 2026. BLINC tahun ini hadir dengan skala lebih besar, agenda lebih mendalam, serta fokus utama pada penanganan kasus stroke yang terus meningkat di Indonesia dan negara berkembang.
Konferensi internasional ini menghadirkan ratusan ahli kesehatan dari Eropa, Amerika Serikat, Asia, dan ASEAN. Mereka terdiri dari dokter spesialis saraf, ahli bedah vaskular, perawat, peneliti, dan akademisi yang berkomitmen untuk berbagi pengetahuan, memperkuat kompetensi tenaga medis, serta mendorong kolaborasi lintas negara. BLINC 2026 menjadi wadah strategis untuk memperkuat penanganan gangguan neurovaskular, menekan angka kecacatan, dan mengurangi kematian akibat stroke.
Seperti diketahui, penyakit stroke kini menjadi ancaman global yang semakin nyata. Data Global Burden of Disease dan World Stroke Organization memproyeksikan bahwa hingga tahun 2026, tren kasus stroke akan terus meningkat signifikan, terutama di negara berkembang. Lebih dari 12 juta orang mengalami stroke baru setiap tahun, dan sekitar 6,5 juta di antaranya meninggal dunia. Indonesia termasuk negara dengan prevalensi tinggi, terutama pada usia produktif di bawah 45 tahun.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi stroke pada penduduk usia ≥15 tahun mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. Fakta ini menegaskan bahwa stroke bukan lagi penyakit yang hanya menyerang lansia, melainkan juga generasi muda yang aktif bekerja.
Dr. Kumara Tini, dokter spesialis saraf, menyampaikan dalam 11 tahun terakhir data menunjukkan peningkatan dua kali lipat hingga lebih dari 20 persen. Stroke kini banyak terjadi di usia muda, akibat gaya hidup. "Saya melihat bahwa usia dibawah 45 tahun itu hanya terjadi pada kurang dari 10 persen dari populasi, tapi dalam 11 tahun terakhir ini, data trakhir menunjukkan peningkatan 2 kali lipat diatas 20 persen lebih, stroke terjadi di usia dibawah 45 tahun, termasuk yang disebebkan life style," ujarnya ditemui disela kegiatan BLINC di Nusa Dua, Badung.
Melalui BLINC 2026 ini, Dr. Affan Priyambodo, Spesialis Bedah Saraf Konsultan Vaskular dan Intervensi Stroke, mendorong adanya kolaborasi dan tukar pengetahuan untuk memperkuat penanganan gangguan neurovaskular.Hal ini diharapkan dapat menekan angka kecacatan dan kematian akibat stroke yang terus meningkat. "Indonesia relatif muda, kita butuh jumlah tenaga ahli yang sangat banyak. Melalui konferensi ini, kita belajar bersama, berkolaborasi, dan mendapatkan data-data terbaru dari dunia internasional," ungkapnya.
Bertajuk "Stroke Wars Beyond The Circle", BLINC menekankan pentingnya pencegahan stroke pada generasi muda melalui edukasi gaya hidup sehat, peningkatan kesadaran masyarakat tentang gejala awal stroke, program skrining kesehatan rutin, serta dukungan kebijakan pemerintah dalam penyediaan fasilitas kesehatan neurovaskular.
Dipilihnya Bali sebagai lokasi konferensi bukan tanpa alasan. Selain memiliki fasilitas konvensi bertaraf internasional, Bali juga menjadi simbol keterbukaan Indonesia terhadap kolaborasi global. Kehadiran para ahli dari berbagai negara diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pengembangan ilmu neurovaskular di kawasan Asia Tenggara.
Melalui penyelenggaraan BLINC diharapkan penanganan stroke di Indonesia semakin terarah dan berbasis data ilmiah, angka kecacatan dan kematian akibat stroke dapat ditekan, generasi muda tidak lagi menjadi korban utama penyakit mematikan ini, serta Indonesia mampu menjadi rujukan regional dalam intervensi neurovaskular.
Bukan sekadar konferensi medis, BLINC menjadi sebuah gerakan global untuk melawan ancaman stroke. Dengan kolaborasi internasional, peningkatan kompetensi tenaga medis, serta edukasi masyarakat, Indonesia berkomitmen menghadapi tantangan kesehatan ini secara serius. Stroke bukan hanya masalah medis, tetapi juga masalah sosial dan ekonomi. BLINC 2026 menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah, memperkuat jaringan, dan memastikan bahwa generasi mendatang dapat hidup lebih sehat, produktif, dan bebas dari ancaman stroke.(blt)




Posting Komentar untuk "Konferensi Neurovascular BLINC 2026 di Bali, Dorong Penanganan Kasus Stroke di Indonesia dan Dunia"