Usia Muda Bukan Penghalang, Kisah Inspiratif Canda & Cinta Bangun Pororo Kitchen dari Nol Hingga Sukses
Buletindewata.id, Badung - Di tengah gempuran tantangan ekonomi dan persaingan bisnis yang semakin ketat, dua anak muda asal Indonesia membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan sebagai pengusaha. Mereka adalah Bhujangga Ayu Canda Berliana Susila dan Cinta Berliana Susila—saudara kembar berusia 21 tahun yang menjadi pendiri Pororo Kitchen, sebuah bisnis kuliner rumahan yang kini dikenal luas di kalangan pecinta roti dan dessert.
Awal Mula Pororo Kitchen: Dari Hobi Menjadi Bisnis Serius
Canda dan Cinta memulai perjalanan bisnis mereka saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Kala itu, banyak aktivitas terhenti, termasuk perkuliahan yang dialihkan ke sistem daring. Di tengah keterbatasan, mereka memanfaatkan waktu luang untuk membuat aneka kue dan roti, seperti muffin, roti sisir, pisang coklat keju, dessert box, donat kentang, hingga peach gum. Keterampilan membuat kue ini bukan datang begitu saja, mereka mewarisi bakat dari sang ibu yang dulu juga berjualan kue rumahan.
Awalnya, tujuan mereka sederhana: menambah uang jajan. Namun, siapa sangka, usaha kecil-kecilan itu berkembang pesat. Tanpa memiliki toko fisik, Pororo Kitchen mampu menarik perhatian pelanggan melalui media sosial. Mereka hanya menerima pesanan melalui sistem PO (pre-order), dan semua proses produksi dilakukan dari dapur rumah mereka. “Kami jualan hanya by PO, belum ada toko, cuma home bakery,” ujar Canda.
Produksi Ratusan Kue per Minggu, Omzet Capai Puluhan Juta
Dengan bantuan dua orang karyawan, Canda dan Cinta mampu menangani pesanan hingga 1.500 pcs per minggu. Untuk roti sisir saja, mereka bisa memproduksi 500 pcs per minggu, sementara muffin mencapai 600–1000 pcs. Dari penjualan tersebut, Pororo Kitchen berhasil meraih omzet hingga Rp20 juta per bulan—angka yang sangat mengesankan untuk bisnis rumahan yang dijalankan oleh mahasiswa.
Yang lebih luar biasa, keduanya tetap aktif menjalani perkuliahan. Cinta kuliah pagi, sementara Canda kuliah sore. Mereka membagi tugas secara bergiliran: Cinta fokus pada produksi di pagi hari, dan Canda menangani pengiriman serta menerima pesanan di sore hari. “Kebetulan saya dengan kembaran jam kuliahnya beda-beda, jadi gantian kerjainnya,” jelas Canda.
Tantangan Modal dan Solusi dari Kredit Usaha Rakyat (KUR)
Meski bisnis mereka berkembang, tantangan tetap ada. Salah satu kendala utama adalah permodalan, terutama saat ingin meningkatkan kapasitas produksi atau memperluas tempat usaha. Belum lagi risiko operasional seperti listrik mati, pembatalan pesanan mendadak, atau kegagalan dalam pengembangan resep baru yang memerlukan proses trial and error.
Untungnya, Canda dan Cinta menemukan solusi melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank BRI. Pinjaman berbunga rendah ini memungkinkan mereka untuk menambah modal tanpa harus melalui proses administrasi yang rumit. “Biasanya orang kan males ngurus administrasi kalau mau cari KUR, tapi ini cepat banget. Paginya saya ajukan, sorenya sudah cair,” ungkap Canda dengan antusias.
Dengan tambahan modal tersebut, mereka bisa memperbesar kapasitas produksi dan mencoba berbagai inovasi produk baru. Salah satu tren yang sedang mereka eksplorasi adalah donat labu, yang tengah digemari oleh konsumen.
Semangat dan Strategi Anak Muda dalam Membangun Bisnis
Meski masih muda, Canda dan Cinta menunjukkan kedewasaan dalam mengelola bisnis. Mereka menyadari bahwa dunia usaha tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya omzet menurun, ada tantangan yang datang tiba-tiba. Namun, mereka tetap konsisten dan berusaha menghadirkan produk baru agar pelanggan tidak bosan. “Namanya orang usaha pasti ada naik turunnya. Tapi kami berusaha untuk selalu ada penjualan dan produk baru,” imbuh Canda.
Mereka juga memiliki mimpi besar: membangun rumah produksi yang lebih luas dan profesional agar Pororo Kitchen bisa melayani lebih banyak pelanggan dan berkembang menjadi brand kuliner yang dikenal secara nasional.
Pesan untuk Generasi Muda: Jangan Takut Memulai
Canda dan Cinta tak hanya fokus pada bisnis mereka, tetapi juga ingin menginspirasi anak-anak muda lainnya untuk berani memulai usaha. Menurut mereka, rasa malas atau “mager” adalah hal yang wajar, tetapi harus dilawan dengan mengingat kembali tujuan awal membangun bisnis. “Selalu ingat tujuan awal menjalankan bisnis untuk apa, itu akan memotivasi diri sendiri untuk terus berusaha,” pesan Canda.
Dukungan BRI untuk UMKM dan Pengusaha Muda
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menyatakan bahwa BRI terus berkomitmen dalam mendukung pelaku UMKM melalui pembiayaan dan pendampingan usaha. Kisah sukses Pororo Kitchen menjadi bukti bahwa akses pembiayaan yang tepat dapat membantu anak muda mewujudkan mimpi dan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah. “BRI ingin lebih banyak lahir success story baru dari pengusaha muda binaan kami,” ujar Hery.
Sebagai informasi, BRI merupakan bank penyalur KUR terbesar di Indonesia. Hingga Juli 2025, BRI Region 17 Denpasar telah menyalurkan KUR senilai Rp6,6 triliun kepada lebih dari 561.000 debitur.
Pororo Kitchen, Bukti Nyata Semangat dan Kreativitas Anak Muda
Kisah Canda dan Cinta menjadi bukti bahwa dengan semangat, kreativitas, dan dukungan yang tepat, anak muda Indonesia bisa membangun bisnis yang sukses bahkan dari rumah. Pororo Kitchen bukan hanya tentang roti dan dessert, tetapi tentang mimpi, kerja keras, dan keberanian untuk memulai. (blt)

Posting Komentar untuk "Usia Muda Bukan Penghalang, Kisah Inspiratif Canda & Cinta Bangun Pororo Kitchen dari Nol Hingga Sukses"