Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Krisis Pariwisata Bali 2025, Antara Fatamorgana dan Harapan

Krisis Pariwisata Bali 2025, Antara Fatamorgana dan Harapan


Buletindewata.id, Badung - Tahun 2025 seharusnya menjadi momentum kebangkitan pariwisata Bali pasca pandemi dan krisis global. Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Alih-alih mengalami lonjakan kunjungan wisatawan, Bali justru terjebak dalam fatamorgana jargon "quality tourism" dan "quality destination" yang tak kunjung diwujudkan dalam aksi nyata.

"Kita semua terlena dengan jargon quality tourism, tapi tidak ada langkah konkret yang diambil. Bali seperti berjalan tanpa arah, seperti bom-bom car yang saling bertabrakan tanpa kendali," tegas Puspa Negara, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Badung sekaligus Ketua Aliansi Pelaku Pariwisata Marginal Bali (APPMB).

Masalah Fundamental yang Tak Terselesaikan

Bagaimana Bali bisa bersaing di kancah global jika persoalan mendasar seperti sampah, kemacetan, banjir, tata ruang yang semrawut, jaringan utilitas yang berantakan, meningkatnya kriminalitas, hingga degradasi lingkungan tak kunjung ditangani secara serius?

Sayangnya, sepanjang tahun 2025, tidak ada gerakan spektakuler maupun kebijakan fundamental yang mampu menjawab tantangan tersebut. Bali seolah berjalan autopilot, tanpa arah dan strategi yang jelas.

Lima Pilar Pariwisata Berkelanjutan yang Terabaikan

Negara-negara yang sukses membangun pariwisata berkelanjutan selalu mengandalkan lima pilar utama: Fasilitas, Keamanan, Pelayanan, Lingkungan, dan Promosi. Sayangnya, kelima pilar ini justru tampak rapuh di Bali saat ini.

1. Fasilitas (Facilities)

Fasilitas pariwisata Bali masih jauh dari standar dunia. Infrastruktur jalan yang rusak, pedestrian yang tidak ramah pejalan kaki, hingga jaringan utilitas yang semrawut menjadi pemandangan sehari-hari. Pengelolaan sampah belum optimal, saluran air tersumbat, dan aksesibilitas transportasi publik masih minim. "Fasilitas dasar seperti jalan mulus, pengelolaan limbah, dan jaringan utilitas bawah tanah adalah syarat mutlak destinasi kelas dunia. Tapi di Bali, perkembangan infrastruktur nyaris stagnan," kritik Puspa Negara.

2. Keamanan dan Ketertiban (Safety & Security)

Tingginya angka kriminalitas, pelanggaran norma, serta gangguan ketertiban umum menjadi ancaman serius bagi kenyamanan wisatawan. Sistem transportasi yang semrawut dan perilaku wisatawan asing yang tidak tertib memperparah situasi. Solusinya? Penegakan hukum yang tegas dan konsisten, serta pengamanan destinasi yang profesional dan berkelanjutan. Tanpa itu, citra Bali sebagai destinasi aman akan terus tergerus.

3. Pelayanan dan Keramahtamahan (Service & Hospitality)

Pelayanan yang ramah dan tulus adalah daya tarik utama Bali. Namun kini, banyak wisatawan mengeluhkan perbedaan perlakuan antara wisatawan domestik dan mancanegara. Senyum yang dulu menjadi ciri khas kini terasa dipaksakan. "Hospitality Bali sedang mengalami degradasi. Kita harus kembalikan semangat pelayanan yang tulus, bukan sekadar formalitas," ujar Puspa Negara.

4. Lingkungan (Environment)

Alih fungsi lahan yang masif, berkurangnya ruang terbuka hijau, dan tata ruang yang kacau menyebabkan banjir, polusi, dan krisis air bersih. Sampah menumpuk di banyak titik, mencoreng wajah Bali sebagai destinasi hijau. Tanpa komitmen kuat menjaga lingkungan, mustahil Bali bisa mempertahankan daya tariknya di mata wisatawan global yang kini semakin peduli pada isu keberlanjutan.

5. Promosi (Promotion)

Promosi adalah nyawa pariwisata. Namun sepanjang 2025, nyaris tak ada kegiatan promosi yang signifikan, baik di dalam maupun luar negeri. Dinas Pariwisata dan lembaga terkait seperti BTB dan BPPD tampak pasif, seolah kehilangan arah. "Pariwisata tanpa promosi adalah nonsense. Kehumasan kita lemah, tidak menggema. Bahkan anggaran promosi pun dihapus sendiri. Ini sangat tidak profesional," tegas Puspa Negara.

Ketakutan Berlebihan terhadap Regulasi

Perpres No. 1 Tahun 2025 tentang efisiensi dijadikan alasan untuk tidak melakukan promosi. Padahal, sebagai destinasi wisata internasional, promosi adalah tugas utama Dinas Pariwisata. Ketakutan ini justru menunjukkan kurangnya kapasitas dan inovasi dalam menyiasati regulasi. "Promosi harus tetap dijalankan secara profesional dan bertanggung jawab. Jangan jadikan regulasi sebagai alasan untuk tidak bekerja," tambah Puspa Negara.

Pentingnya Mengikuti Pameran Wisata Dunia

Bali pernah rutin mengikuti pameran pariwisata internasional seperti ITB Berlin dan WTM London. Namun kini, kehadiran Bali di ajang-ajang tersebut nyaris tak terdengar.
ITB Berlin yang merupakan pameran pariwisata terbesar di dunia yang menjadi ajang strategis membangun jejaring global. WTM London yang menjadi forum utama industri perjalanan dunia yang mempertemukan pelaku wisata dari seluruh dunia, hingga Klook Travel Fest Sydney yang dapat menjadi peluang besar menjangkau pasar Australia yang potensial.

Negara-negara pesaing seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Filipina rutin hadir di ajang ini. Mereka paham bahwa promosi bukan sekadar pameran, tapi juga membangun kepercayaan dan kemitraan strategis.

Rekomendasi Strategis untuk Pemerintah Daerah

Puspa Negara menegaskan bahwa Pemprov Bali dan Pemkab Badung harus segera melakukan introspeksi dan pembenahan menyeluruh. Beberapa langkah strategis yang disarankan antara lain, membangun infrastruktur berkelas dunia yang mendukung kenyamanan wisatawan meningkatkan keamanan dan ketertiban melalui penegakan hukum yang tegas dan sistem transportasi yang tertib, mengembalikan semangat pelayanan yang tulus dan profesional di seluruh lini industri pariwisata, menata ulang tata ruang dan memperkuat perlindungan lingkungan sebagai fondasi keberlanjutan, hingga mengaktifkan kembali promosi wisata secara konsisten dan kreatif, baik di dalam maupun luar negeri.

Pariwisata Bali tidak boleh terus terjebak dalam euforia masa lalu. Dunia berubah, dan Bali harus beradaptasi. Dengan komitmen kuat, kolaborasi lintas sektor, dan keberanian untuk berinovasi, Bali bisa kembali menjadi primadona pariwisata dunia. "Kita tidak boleh menyerah. Bali harus bangkit dengan strategi yang terukur, promosi yang agresif, dan pelayanan yang berkualitas. Saatnya kita kembali menjadi tuan rumah yang membanggakan," pungkas Puspa Negara.

Dengan menguatkan lima pilar pariwisata berkelanjutan dan mengembalikan semangat gotong royong, Bali bisa keluar dari krisis ini. Mari bersama-sama membangun kembali pariwisata Bali yang tidak hanya indah, tapi juga tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan. (blt)

Posting Komentar untuk "Krisis Pariwisata Bali 2025, Antara Fatamorgana dan Harapan"