Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

TPST3R Seminyak Maksimalkan Pemilahan Sampah Hadapi Lonjakan Wisatawan dan Penutupan TPA Suwung

TPST3R Seminyak Maksimalkan Pemilahan Sampah Hadapi Lonjakan Wisatawan dan Penutupan TPA Suwung

Buletindewata.id Badung - Menjelang akhir tahun, kawasan pariwisata Seminyak, Bali, bersiap menghadapi dua tantangan besar sekaligus: lonjakan kunjungan wisatawan dan penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung yang dijadwalkan mulai 23 Desember. Dalam menghadapi situasi ini, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reduce-Reuse-Recycle (TPST3R) Desa Adat Seminyak mengambil langkah strategis dengan mengintensifkan pemilahan sampah, terutama sampah plastik yang mendominasi limbah dari sektor pariwisata.

Sampah plastik menjadi perhatian utama karena volumenya yang tinggi dan dampaknya yang signifikan terhadap lingkungan. Limbah plastik dari botol minuman, kemasan makanan, dan produk sekali pakai lainnya terus meningkat, terutama dari hotel, restoran, beach club, dan usaha pariwisata lainnya di kawasan Seminyak dan Kuta.

Menurut I Komang Ruditha Hartawan, Ketua TPST3R Desa Adat Seminyak, volume sampah meningkat seiring dengan naiknya jumlah kunjungan wisatawan. Ia menjelaskan, “Kalau jumlah kunjungan meningkat 20 persen, maka volume sampah juga pasti naik 20 persen. Bahkan di akhir tahun, peningkatannya bisa mencapai 30 persen. Sampah lebih banyak berasal dari industri pariwisata.”


TPST3R Seminyak Maksimalkan Pemilahan Sampah Hadapi Lonjakan Wisatawan dan Penutupan TPA Suwung


Saat ini, TPST3R mencatat volume sampah harian mencapai sekitar 179 meter kubik, dengan dominasi sampah plastik. Jenis sampah ini menjadi prioritas utama dalam proses pemilahan karena memiliki nilai ekonomi dan potensi daur ulang yang tinggi.

Penutupan TPA Suwung menjadi tantangan serius bagi pengelolaan sampah di Kabupaten Badung, termasuk TPST3R Seminyak. Selama ini, sekitar 6 hingga 7 truk sampah residu—jenis sampah yang tidak bisa didaur ulang atau dikomposkan—dikirim ke TPA Suwung setiap harinya. Dengan penutupan tersebut, TPST3R harus mencari solusi alternatif untuk mengelola residu secara mandiri.

Sayangnya, fasilitas TPST3R Seminyak belum dilengkapi dengan insinerator ramah lingkungan yang mampu membakar residu secara aman. “Saya masih mengutamakan pemilahan, supaya residu semakin sedikit yang dibuang ke TPA. Karena insinerator yang saya tahu itu sudah terpasang di Mengwi. Tapi di sini belum ada,” ujar Komang Ruditha. Ia juga menambahkan, “Kondisi sampah sekarang ini rata-rata basah, apalagi di musim hujan seperti sekarang. Kalau musim kering mungkin bisa dibakar, tapi sekarang tidak memungkinkan.”

Meski menghadapi keterbatasan fasilitas, TPST3R Seminyak tidak tinggal diam. Melalui pendekatan inovatif dan kolaborasi dengan berbagai pihak, mereka terus berupaya mengurangi volume sampah residu. Salah satu strategi utama adalah mengintensifkan pemilahan sampah sejak awal, terutama memisahkan sampah plastik jenis PET (Polyethylene Terephthalate) seperti botol minuman.

Sampah plastik yang telah dipilah kemudian dikemas dan dikirim ke luar Bali untuk didaur ulang di pabrik pengolahan. Setiap pengiriman mencakup sekitar 200 kilogram sampah plastik, dan dalam sebulan bisa mencapai lebih dari 10 ton. Langkah ini tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Salah satu aspek penting dalam pengelolaan sampah yang efektif adalah edukasi kepada masyarakat dan pelaku industri pariwisata. TPST3R Seminyak secara aktif melakukan sosialisasi kepada hotel, restoran, dan pelaku usaha lainnya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemilahan sampah dari sumbernya.

Dengan edukasi yang tepat, masyarakat diharapkan dapat memilah sampah organik, anorganik, dan residu sejak dari rumah atau tempat usaha. Hal ini akan sangat membantu proses pengolahan di TPST3R, mengurangi jumlah sampah yang harus dibuang, serta mempercepat proses daur ulang.


TPST3R Seminyak Maksimalkan Pemilahan Sampah Hadapi Lonjakan Wisatawan dan Penutupan TPA Suwung


Akhir tahun merupakan momen puncak kunjungan wisatawan ke Bali, terutama ke kawasan Seminyak dan Kuta yang terkenal dengan pantai, hiburan malam, dan kuliner kelas dunia. Namun, di balik euforia pariwisata, terdapat tanggung jawab besar untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

TPST3R Seminyak berkomitmen untuk menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian integral dari strategi pariwisata berkelanjutan. Dengan memperkuat sistem pemilahan, meningkatkan kapasitas pengolahan, dan menggandeng komunitas serta sektor swasta, mereka berharap dapat menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang efisien dan ramah lingkungan.

Langkah-langkah yang dilakukan TPST3R Seminyak sejalan dengan visi besar Pemerintah Provinsi Bali untuk mewujudkan Bali Bebas Sampah. Penutupan TPA Suwung menjadi momentum penting untuk mempercepat transisi menuju sistem pengelolaan sampah berbasis sumber dan ekonomi sirkular. (blt)

Posting Komentar untuk "TPST3R Seminyak Maksimalkan Pemilahan Sampah Hadapi Lonjakan Wisatawan dan Penutupan TPA Suwung"