Bali Hotel Association (BHA) Tegaskan Komitmen Hijau, Kelola Sampah Mandiri Demi Pariwisata Berkelanjutan
Buletindewata.id, Badung – Di tengah sorotan dunia terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan, jaringan hotel di Bali melalui Bali Hotel Association (BHA) menegaskan komitmennya untuk menjaga citra pariwisata hijau Pulau Dewata. Dengan anggota lebih dari 163 hotel berbintang 4 dan 5, asosiasi ini terus mendorong penerapan sistem pengelolaan sampah mandiri yang ramah lingkungan, meskipun teknologi pengolahan modern di luar negeri semakin berkembang pesat.
BHA menyadari bahwa sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka) merupakan penyumbang signifikan sampah di Bali, yakni sekitar 30–40 persen dari total timbulan sampah, dengan dominasi 70 persen berupa sampah organik. Kondisi ini menjadi tantangan besar yang harus diatasi agar citra pariwisata Bali tetap terjaga sebagai destinasi dunia yang bersih, indah, dan berkelanjutan.
Meski teknologi pengolahan sampah organik menjadi kompos maupun energi listrik sudah tersedia di pasaran, pihak asosiasi menilai harga alat tersebut masih relatif mahal untuk dimiliki masing-masing hotel. Karena itu, BHA membuka peluang pengadaan kolektif agar biaya investasi dapat ditekan, sekaligus memastikan seluruh jaringan hotel memiliki akses terhadap teknologi ramah lingkungan.
Saat ini, pelaku usaha perhotelan di Bali masih mengandalkan pengolahan sampah secara mandiri melalui pemilahan di sumber, pembuatan teba modern, penggunaan komposter, serta kerja sama dengan pihak ketiga untuk penanganan limbah dari sektor food and beverage. BHA juga berusaha menyediakan daftar vendor pengelola sampah yang telah memiliki sertifikasi keberlanjutan, sehingga hotel-hotel anggota dapat bekerja sama dengan mitra yang terpercaya.
Franklyn Kocek, pengurus Bali Hotel Association, menyampaikan bahwa membeli alat pengelolaan sampah itu harganya cukup kompetitif, cukup mahal. Saat ini yang bisa kami lakukan adalah membuka peluang kolektif. "Kami juga mengundang beberapa vendor yang memang bisa mengolah sendiri, serta mendorong kerja sama dengan banjar dan pemerintah lokal yang memiliki vendor tersertifikasi. Rata-rata kami sudah mengolah sampah organik sendiri dengan teba modern dan komposter", ungkapnya.
Berdasarkan data DLHK Badung, sektor Horeka menjadi salah satu penyumbang terbesar timbulan sampah. Kondisi darurat sampah di Bali membuat pelaku usaha sangat menantikan hadirnya teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik. Dengan adanya solusi ini, diharapkan timbulan sampah tidak menumpuk dan tidak merusak citra pariwisata Bali sebagai destinasi kelas dunia.
BHA menegaskan bahwa komitmen menjaga lingkungan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk memastikan keberlanjutan pariwisata Bali. Dengan langkah-langkah nyata seperti pemilahan mandiri, kerja sama dengan vendor tersertifikasi, serta rencana pengadaan kolektif teknologi pengolahan sampah, asosiasi ini berupaya menjadi pionir dalam menjaga Bali tetap hijau dan berdaya saing di mata dunia.(blt)


Posting Komentar untuk "Bali Hotel Association (BHA) Tegaskan Komitmen Hijau, Kelola Sampah Mandiri Demi Pariwisata Berkelanjutan"