Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ni Putu Meilanie Ary Sandi, Kartini Muda Bali yang Sukses Menjadi Petani Organik di Era Digital

Ni Putu Meilanie Ary Sandi, Kartini Muda Bali yang Sukses Menjadi Petani Organik di Era Digital


Buletindewata.id, Tabanan - Di tengah dominasi sektor pariwisata di Bali, muncul sosok inspiratif yang memilih jalur berbeda. Ni Putu Meilanie Ary Sandi, perempuan muda berusia 22 tahun asal Kabupaten Tabanan, menjadi salah satu contoh nyata bahwa bertani bukanlah profesi kuno, melainkan peluang masa depan yang menjanjikan. Lulusan perguruan tinggi ini dengan bangga menekuni dunia pertanian organik, meski sempat merasa minder karena sebagian besar teman sebayanya lebih memilih bekerja di hotel, restoran, atau industri pariwisata.  

Meilanie tidak pernah tergoda untuk meninggalkan ladang. Baginya, bertani adalah panggilan hati sekaligus bentuk kontribusi nyata terhadap krisis pangan yang kini menjadi isu global. “Saya menyadari sekarang ini terjadi krisis pangan, makanya saya tidak berhenti menjadi petani,” ujarnya saat ditemui di kebun miliknya di Baturiti, Tabanan.  

Sejak kecil, Meilanie sudah akrab dengan dunia pertanian. Bersama orangtuanya, ia terbiasa berkebun dan membuat pupuk alami dari limbah sapi. Kebiasaan itu menumbuhkan kecintaannya terhadap pertanian organik. Kini, bersama sang ayah, ia mengelola lahan seluas setengah hektare yang ditanami berbagai jenis sayuran organik.  

Meski banyak anak muda Bali lebih tertarik bekerja di sektor pariwisata, Meilanie justru melihat peluang besar di bidang pertanian. Ia percaya bahwa dengan bertani, generasi muda bisa mandiri, menjaga lingkungan, sekaligus berkontribusi pada ketahanan pangan. “Kalau sadar akan manfaat bertani, pasti banyak yang mau ikut terjun ke dunia pertanian,” katanya penuh semangat.  


Ni Putu Meilanie Ary Sandi, Kartini Muda Bali yang Sukses Menjadi Petani Organik di Era Digital

Pertanian organik yang digeluti Meilanie bukan sekadar menghasilkan produk sehat, tetapi juga menjaga kelestarian alam. Dengan tidak menggunakan bahan kimia berbahaya, tanah tetap subur, air tidak tercemar, dan ekosistem tetap terjaga. Hal ini sejalan dengan tren global yang semakin mengutamakan produk organik sebagai gaya hidup sehat.  

Selain itu, bertani organik memberikan keuntungan finansial. Meilanie tidak perlu membeli pupuk kimia karena ia mampu membuat pupuk sendiri. Biaya produksi pun lebih rendah, sehingga keuntungan bisa lebih maksimal. “Ternyata bertani bisa menekan biaya. Memang perlu modal di awal, tapi hasilnya sepadan,” jelasnya. 

Momentum Hari Kartini tahun 2026 menjadi refleksi penting bagi Meilanie. Ia berharap perempuan muda Bali, khususnya generasi seusianya, berani menekuni dunia pertanian. “Para Kartini-Kartini muda seusia saya dan yang telah senior, ayo meneruskan giat bertani. Bertani tidak harus kotor, ada teknologi yang bisa membantu. Mari kita bertani,” serunya.  

Pesan ini menjadi relevan karena perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan. Dengan semakin banyak perempuan yang terjun ke dunia pertanian, maka sektor ini akan semakin kuat dan berkelanjutan.  


Ni Putu Meilanie Ary Sandi, Kartini Muda Bali yang Sukses Menjadi Petani Organik di Era Digital


Meilanie tidak hanya mengandalkan cara tradisional. Ia memanfaatkan teknologi digital untuk memasarkan hasil panennya. Sayuran organik yang dihasilkan dari kebunnya kini mampu menembus restoran-restoran di Bali. Selain itu, ia aktif menggunakan media sosial untuk menjangkau konsumen lebih luas.  

“Jadi petani itu menyenangkan. Saya tidak menyangka hasil panen bisa masuk ke restoran dan dipasarkan lewat media sosial,” ungkapnya. Dengan strategi digital marketing, ia mampu memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan.  

Dalam mengembangkan usaha, Meilanie merasakan pentingnya dukungan sektor perbankan. Ia terbantu dengan layanan keuangan digital, salah satunya aplikasi BRImo dari Bank BRI. “Sekarang saya pakai BRImo. Simpel dan lengkap fiturnya, jadi memudahkan untuk kebutuhan operasional,” katanya.  

Melalui BRImo, transaksi keuangan menjadi lebih mudah, cepat, dan aman. Hal ini membuktikan bahwa teknologi finansial dapat menjadi mitra strategis bagi petani muda dalam mengelola usaha.  

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan bahwa BRImo hadir sebagai bentuk nyata dukungan terhadap inklusi keuangan sekaligus pemberdayaan perempuan di sektor pertanian. “Kartini masa kini tidak hanya berperan dalam lingkup domestik, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi. Melalui BRImo, kami ingin memberikan kemudahan akses layanan keuangan agar petani bisa berkembang lebih modern dan berkelanjutan,” ujarnya.  

Perempuan, khususnya Kartini muda seperti Meilanie, memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Dengan semangat, ketekunan, dan kemampuan beradaptasi terhadap teknologi, mereka mampu membawa pertanian ke level yang lebih tinggi.  

BRI pun berkomitmen menghadirkan inovasi layanan dan program pemberdayaan agar perempuan Indonesia semakin berdaya, mandiri, dan mampu bersaing di era digital. Dukungan ini diharapkan mampu memperkuat ekonomi kerakyatan sekaligus menjadikan pertanian sebagai sektor unggulan di daerah. (blt)


Posting Komentar untuk "Ni Putu Meilanie Ary Sandi, Kartini Muda Bali yang Sukses Menjadi Petani Organik di Era Digital"