Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Warga Bali Berbondong-Bondong Memburu Tong Komposter, Pedagang di Badung Kewalahan Penuhi Permintaan

Warga Bali Berbondong-Bondong Memburu Tong Komposter, Pedagang di Badung Kewalahan Penuhi Permintaan

Buletindewata.id, Badung - Kesadaran masyarakat Bali terhadap pentingnya pengolahan sampah organik kini semakin meningkat. Fenomena ini terlihat jelas di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar, di mana warga berbondong-bondong membeli tong komposter sebagai solusi praktis untuk mengolah limbah rumah tangga. Sejak diberlakukannya kebijakan baru di TPA Suwung Denpasar per 1 April 2026, yang hanya menerima sampah anorganik dan residu, masyarakat perkotaan mulai mencari alternatif agar sampah organik tidak menumpuk di jalanan.  

Kebijakan pengelolaan sampah di TPA Suwung Denpasar menjadi titik balik besar dalam pola hidup masyarakat Bali. Dengan adanya aturan bahwa hanya sampah anorganik dan residu yang diterima, otomatis sampah organik dari rumah tangga tidak lagi diangkut oleh truk sampah. Kondisi ini memicu keresahan warga, karena banyak yang belum terbiasa memilah sampah. Akibatnya, sampah organik menumpuk di pinggir jalan, menimbulkan bau tidak sedap, dan berpotensi menjadi sumber penyakit.  

Namun, di balik tantangan tersebut, muncul peluang besar: tong komposter menjadi solusi yang paling dicari. Alat ini memungkinkan warga mengolah sampah organik secara mandiri di rumah, menghasilkan kompos yang bermanfaat untuk tanaman.  

Eka, salah seorang warga Denpasar, mengaku membeli tong komposter berukuran kecil dengan harga Rp 650 ribu. Menurutnya, ukuran kecil lebih efisien untuk halaman rumah yang terbatas. “Sekarang kan sampah sulit diambil pihak pengangkut, jadi dari rumah belajar mandiri mengolah sampah organik. Saya mulai memilah mana sampah organik dan mana yang anorganik,” ujarnya.  

Warga Bali Berbondong-Bondong Memburu Tong Komposter, Pedagang di Badung Kewalahan Penuhi Permintaan


Tingginya permintaan membuat pedagang tong komposter di Badung kewalahan. Putu Arianta, salah satu penjual, mengungkapkan bahwa dalam sehari ia bisa menjual hingga 15 unit tong komposter. Produk yang ditawarkan beragam, mulai dari ukuran kecil seharga Rp 650 ribu hingga ukuran besar berkapasitas 200 liter dengan harga Rp 1,2 juta.  

“Awalnya memang susah membuatnya, tapi sekarang sudah terbiasa. Kebanyakan pembeli datang dari Denpasar. Sehari bisa sekitar 15 unit terjual, meskipun jumlahnya tidak menentu,” kata Putu.  

Permintaan yang melonjak membuat stok barang sering kali tidak sebanding dengan jumlah pesanan. Pedagang harus bekerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.  

Tong komposter bukan sekadar wadah pengolahan sampah, tetapi juga memiliki banyak manfaat mengurangi volume sampah rumah tangga sehingga tidak menumpuk di jalan, menghasilkan pupuk kompos alami yang bisa digunakan untuk tanaman hias maupun sayuran, mendukung gaya hidup ramah lingkungan dengan mengurangi ketergantungan pada TPA, termasuk efisiensi biaya karena warga tidak perlu membeli pupuk kimia.  

Dengan manfaat tersebut, tidak heran jika tong komposter kini menjadi barang yang sangat diburu.  

Warga Bali Berbondong-Bondong Memburu Tong Komposter, Pedagang di Badung Kewalahan Penuhi Permintaan


Fenomena ini menunjukkan adanya tren baru di masyarakat Bali: kesadaran lingkungan semakin kuat. Tong komposter bukan hanya solusi praktis, tetapi juga simbol perubahan gaya hidup. Warga mulai memahami bahwa sampah organik bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat, bukan sekadar dibuang.  

Selain itu, tren ini membuka peluang usaha baru. Pedagang lokal bisa memproduksi tong komposter secara mandiri, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan ekonomi daerah.  

Meski permintaan tinggi, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Tidak semua warga memahami cara menggunakan tong komposter dengan benar. Edukasi tentang pemilahan sampah dan proses pengomposan perlu terus digencarkan. Pemerintah daerah, komunitas lingkungan, dan pedagang bisa bekerja sama memberikan pelatihan sederhana kepada masyarakat.  

Dengan tong komposter, masyarakat tidak hanya mengatasi masalah sampah, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan. Bali kini sedang menuju era baru: dari krisis sampah menuju solusi hijau berbasis kesadaran warga. (blt) 


Posting Komentar untuk "Warga Bali Berbondong-Bondong Memburu Tong Komposter, Pedagang di Badung Kewalahan Penuhi Permintaan"