KUR BRI Bali Dorong Petani Bunga Pacah Jaga Pasokan Upacara
Buletindewata.id, Badung - Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI semakin terbukti sebagai solusi permodalan yang mampu menjaga keberlangsungan usaha pertanian di daerah. Program ini tidak hanya memberikan akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tetapi juga menjadi penopang utama bagi petani bunga pacah yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan sarana upacara adat di Bali.
Made Tarji, seorang petani bunga pacah di Banjar Panglan Kelod, Desa Kapal, Kabupaten Badung, mengungkapkan bahwa KUR dari BRI telah menjadi penyelamat dalam menjaga siklus produksi. Modal usaha pertanian yang ia peroleh digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pengolahan lahan, pembelian bibit unggul, pupuk, hingga perawatan intensif tanaman. Menurut Tarji, biaya produksi satu siklus tanam bunga pacah bisa mencapai Rp20 juta sebelum panen, sehingga dukungan pembiayaan menjadi sangat penting agar usaha tetap berjalan.
Bunga pacah memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat Bali. Sebagai salah satu komoditas utama untuk sarana upacara adat dan keagamaan, bunga ini selalu dibutuhkan dalam jumlah besar. Tanaman mulai berbunga sekitar tiga minggu setelah ditanam dan dapat dipanen setiap hari selama dua hingga tiga bulan. Pada masa panen awal, produksi bisa mencapai 35 kilogram per hari, kemudian stabil di kisaran 25–27 kilogram.
Meski permintaan bunga pacah untuk kebutuhan upacara relatif konsisten, harga di pasar sangat fluktuatif. Saat pasokan melimpah, harga bisa turun hingga Rp10.000 per kilogram. Sebaliknya, ketika produksi berkurang akibat cuaca atau faktor lain, harga melonjak hingga Rp40.000 per kilogram. Kondisi ini membuat pendapatan petani tidak selalu stabil, meski permintaan tetap tinggi.
Selain harga yang tidak menentu, tantangan cuaca menjadi faktor utama yang memengaruhi kualitas dan volume panen. Hujan deras atau musim kering berkepanjangan dapat menurunkan produktivitas tanaman. Tarji menambahkan, bunga pacah tidak bisa disimpan lama sehingga harus segera dipasarkan. Hal ini membuat petani bergantung pada harga pasar maupun pengepul. “Bantuan modal sangat membantu petani, karena biaya produksi keluar lebih dulu sebelum panen,” tuturnya.
Efisiensi biaya dan akses modal usaha pertanian melalui KUR BRI menjadi faktor penentu keberlangsungan usaha. Tanpa dukungan pembiayaan, petani akan kesulitan menjaga pasokan bunga pacah yang sangat dibutuhkan masyarakat Bali untuk sarana upacara.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan bahwa BRI terus memperkuat penyaluran KUR ke sektor produktif, termasuk pertanian. Menurutnya, pembiayaan ini tidak hanya mendukung modal kerja, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani. “Melalui KUR BRI kami ingin memastikan petani memiliki akses pembiayaan memadai sehingga usaha dapat berkembang, produksi terjaga, dan kesejahteraan meningkat,” ujarnya.
Dengan dukungan permodalan yang berkelanjutan, sektor pertanian Bali diharapkan semakin tangguh menghadapi tantangan cuaca dan dinamika harga. KUR BRI tidak hanya menjadi solusi modal usaha pertanian, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi daerah. Keberadaan program ini memberi harapan bagi petani bunga pacah agar tetap mampu menjaga pasokan bunga untuk kebutuhan upacara masyarakat Bali, sekaligus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal.
Keberhasilan program KUR BRI tidak hanya berdampak pada petani secara individu, tetapi juga pada masyarakat luas. Pasokan bunga pacah yang terjaga memastikan kelancaran pelaksanaan upacara adat dan keagamaan di Bali. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan modal usaha pertanian memiliki dampak sosial yang besar, karena menyangkut keberlangsungan tradisi dan budaya masyarakat.
Selain itu, keberadaan KUR BRI juga mendorong terciptanya lapangan kerja baru. Dengan modal yang cukup, petani dapat memperluas lahan, meningkatkan produksi, dan melibatkan lebih banyak tenaga kerja lokal. Dampak ekonomi ini memperkuat daya saing daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan semakin luasnya akses pembiayaan melalui KUR BRI, diharapkan petani bunga pacah dan pelaku usaha pertanian lainnya dapat lebih mandiri dalam mengelola usaha. Dukungan modal usaha pertanian yang berkelanjutan akan membuat sektor ini semakin tangguh menghadapi tantangan cuaca, fluktuasi harga, dan dinamika pasar.(blt)

Posting Komentar untuk "KUR BRI Bali Dorong Petani Bunga Pacah Jaga Pasokan Upacara"