Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

InJourney Target Menekan Emisi 4.000 Ton CO2e di 2026, Memperkuat Sektor Penerbangan dan Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia

InJourney Target Menekan Emisi 4.000 Ton CO2e di 2026, Memperkuat Sektor Penerbangan dan Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia


Buletindewata.id, Badung - Melalui ITDC, InJourney menerapkan teknologi SWRO untuk air laut layak konsumsi di destinasi wisata The Nusa Dua Bali. Setelah tiga tahun beroperasi di Indonesia, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, yang merupakan holding BUMN di bidang penerbangan dan pariwisata, melanjutkan langkah strategisnya. InJourney menerapkan beragam inisiatif yang melintas berbagai sektor, termasuk modernisasi bandara dan peningkatan koneksi udara, pengembangan tujuan wisata budaya dan edukasi seperti Borobudur dan Taman Mini Indonesia Indah, pembangunan International Medical Tourism di KEK Sanur, serta pengembangan tujuan wisata The Mandalika dan The Golo Mori. Melalui Sarinah, InJourney juga terus menghadirkan karya-karya terbaik Indonesia ke panggung dunia. 

Rangkaian langkah ini mendukung peningkatan hasil kinerja perusahaan, yang tercermin dari posisi InJourney sebagai perusahaan terbesar ke-43 di Indonesia.InJourney semakin memperkuat perannya dalam memposisikan sektor penerbangan dan pariwisata sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Capaian tersebut menjadi landasan bagi InJourney untuk menjalankan peran ganda yang seimbang, sebagai pencipta nilai dan agen pembangunan, melalui transformasi yang tak hanya memperkuat kinerja internal, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional, sektor penerbangan dan pariwisata, serta kesejahteraan masyarakat melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Memasuki tahun keempat, InJourney tetap berkomitmen pada keberlanjutan sebagai arah utama transformasi perusahaan. Sebagai bagian dari tema “InJourney 4 Tahun Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia”, keberlanjutan ditempatkan sebagai pendekatan dalam setiap inisiatif jangka panjang, menjadikan pariwisata sebagai investasi antar generasi yang dapat menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan sosial, sekaligus memberikan dasar hijau bagi masa depan Indonesia.Komitmen InJourney terhadap pariwisata yang berkelanjutan lahir dari keyakinan bahwa keberhasilan bisnis yang berkepanjangan hanya bisa diraih jika pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. 

Dengan visi “Ekonomi Pariwisata Berkelanjutan dan Menciptakan Dampak untuk Komunitas”, InJourney mengembangkan ekosistem penerbangan dan pariwisata yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga memperkuat komunitas lokal serta menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari strategi bisnis ke depan.

Herdy Harman, Direktur SDM dan Digital InJourney, menekankan bahwa keberlanjutan dan tanggung jawab bisnis merupakan dasar utama bagi transformasi pariwisata di tanah air. Ia menyatakan bahwa pembangunan tidak hanya terfokus pada infrastruktur dan program, tetapi juga harus menjangkau aspek yang paling fundamental, yaitu manusia.“Komitmen kami terwujud melalui program inisiatif hijau di lingkungan InJourney Group, yang bertujuan menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Inisiatif ini dirancang untuk menghasilkan dampak yang terukur, konsisten, dan berkelanjutan, sejalan dengan agenda transformasi InJourney dalam membangun ekosistem penerbangan dan pariwisata yang ramah lingkungan,” terang Herdy.

Dalam hal aspek lingkungan, sebagai bagian dari penerapan ESG, InJourney menegaskan komitmen untuk mengurangi emisi sebesar 4.000 ton CO₂e. Komitmen ini merupakan langkah awal menuju operasi yang lebih ramah lingkungan dan bertanggung jawab, serta bentuk dukungan nyata terhadap target Net Zero Emission yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia.Salah satu destinasi wisata yang dikelola oleh InJorney melalui perusahaan afiliasinya, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), yaitu The Nusa Dua di Bali, telah menerapkan sistem pariwisata yang berkelanjutan dengan fokus pada tanggung jawab terhadap lingkungan. 


InJourney Target Menekan Emisi 4.000 Ton CO2e di 2026, Memperkuat Sektor Penerbangan dan Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia


Troy Warokka, selaku Direktur Operasi ITDC, menjelaskan bahwa penerapan inisiatif ramah lingkungan di area tersebut merupakan dasar operasional untuk menjadikan lokasi ini sebagai tujuan wisata premium yang tahan banting dan berkelanjutan. “Implementasi penggunaan sumber daya hijau seperti Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), Pengelolaan Air Limbah, sistem Pengelolaan Sampah yang terintegrasi, dan Reclaim Water telah memastikan bahwa aktivitas pariwisata dapat berlangsung dengan efisien, aman, dan tetap memelihara daya dukung lingkungan. Bagi ITDC, keberlanjutan bukan sekadar agenda, melainkan merupakan basis operasional kawasan untuk menjamin bahwa The Nusa Dua akan tetap menjadi destinasi premium yang tahan banting dan berkelanjutan bagi generasi yang akan datang," tuturnya.

The Nusa Dua, Bali, telah menjalankan fasilitas SWRO selama tiga bulan terakhir. Fasilitas ini dapat memproduksi 331.382 m³ air bersih, dan ketika beroperasi secara penuh, SWRO memiliki kapasitas untuk menghasilkan hingga 1.314.000 m³ air bersih setiap tahunnya. SWRO menggunakan air laut sebagai sumber alternatif untuk air bersih, sehingga dapat secara signifikan mengurangi ketergantungan kawasan pada air tanah dan sumber air tawar. Penerapan teknologi ini juga berperan penting dalam memperkuat ketahanan air di area tersebut, menekan risiko kelangkaan air akibat perubahan iklim, serta menjamin keberlanjutan operasional pariwisata di The Nusa Dua.

Penerapan fasilitas SWRO ini juga memungkinkan ITDC NU, yang merupakan entitas bisnis di bawah ITDC, mencatat pencapaian bersejarah sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang mendapatkan izin resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mengolah air laut menjadi air yang aman untuk konsumsi melalui teknologi modern.

Anak Agung Istri Ratna Dewi, Direktur Utama ITDC Nusantara Utilitas, menyatakan bahwa penerapan SWRO merupakan langkah nyata dalam memperkuat ketahanan air di kawasan sekaligus mendukung pengurangan tekanan terhadap sumber air tanah. “Dengan teknologi yang aman dan terukur ini, kami dapat memastikan ketersediaan pasokan air bersih yang stabil bagi semua penyewa dan wisatawan tanpa merugikan keberlanjutan lingkungan. Pengakuan dari KKP sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang mendapatkan izin resmi untuk pengolahan air laut menjadi air layak konsumsi menunjukkan bahwa inovasi hijau bisa berjalan bersamaan dengan efisiensi dan standar layanan yang tinggi,” pungkasnya.(blt)

Posting Komentar untuk "InJourney Target Menekan Emisi 4.000 Ton CO2e di 2026, Memperkuat Sektor Penerbangan dan Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia"