Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tradisi Ngejot Idul Adha di Kampung Angantiga, Simbol Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama di Bali

Tradisi Ngejot Idul Adha di Kampung Angantiga, Simbol Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama di Bali


Buletindewata.id, Badung - Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Kampung Angantiga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, kembali menjadi sorotan publik. Bukan hanya karena momentum religius umat Islam, tetapi juga karena tradisi unik yang mencerminkan wajah toleransi, harmoni, dan kerukunan antarumat beragama di Pulau Dewata. Tradisi tersebut dikenal dengan nama “Ngejot”, yaitu berbagi daging kurban kepada sesama, termasuk kepada warga Hindu yang tinggal berdampingan dengan komunitas Muslim di desa tersebut.  

Tradisi Ngejot bukan sekadar kegiatan berbagi daging kurban, melainkan simbol persaudaraan lintas agama yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun. Kepala Kampung Angantiga, M. Ramsudin, menegaskan bahwa tradisi ini adalah warisan leluhur yang harus terus dijaga. “Untuk pemotongan hewan kurban dilaksanakan oleh jamaah atau warga kami semuanya, dan itu memang sudah tradisi turun-temurun. Selanjutnya daging akan dibagikan ke warga, termasuk juga diberikan kepada saudara-saudara yang beragama Hindu. Tradisi ini diwariskan untuk saling berbagi rasa di hari raya,” ujarnya.  

Tradisi Ngejot Idul Adha di Kampung Angantiga, Simbol Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama di Bali

Pada Idul Adha tahun ini, warga Kampung Angantiga menyembelih 23 ekor kambing dan 6 ekor sapi, termasuk dua ekor sapi sumbangan dari Presiden Prabowo Subianto dengan berat masing-masing 436 dan 476 kilogram. Kehadiran hewan kurban dari Presiden menjadi bentuk dukungan nyata terhadap tradisi yang memperkuat kerukunan antarumat beragama. Seluruh daging kurban kemudian dibagikan kepada kaum dhuafa, pecalang, prajuru adat, pemangku, hingga aparat desa setempat.  

Tradisi Ngejot mendapat apresiasi tinggi dari Bendesa Adat Angantiga, I Nyoman Kamiana, serta warga non-Muslim setempat. Menurutnya, tradisi ini telah menjadi jembatan kerukunan yang nyata. “Semoga ke depannya, walaupun kita berbeda agama di Bali, kita tetap saling menjaga dan saling toleransi. Karena kami bukan orang lain, khususnya di Angantiga ini ada kaitan, ada hubungan saudara,” ungkapnya.  

Tradisi Ngejot Idul Adha di Kampung Angantiga, Simbol Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama di Bali

Komunitas Muslim di Kampung Angantiga diketahui berasal dari suku Bugis yang telah menetap di wilayah tersebut sejak sekitar 400 tahun lalu. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat Hindu mayoritas di Desa Adat Angantiga. Kedekatan ini tetap terjaga melalui tradisi toleransi beragama, salah satunya lewat Ngejot. Tradisi ini menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi rasa persaudaraan dan kebersamaan.  

Bali dikenal sebagai destinasi wisata dunia dengan budaya Hindu yang kental. Namun, keberadaan komunitas Muslim di berbagai wilayah menunjukkan bahwa Bali adalah rumah bagi keragaman. Tradisi Ngejot di Kampung Angantiga menjadi contoh nyata bagaimana umat Islam dan Hindu dapat hidup berdampingan dengan penuh rasa hormat. Momentum Idul Adha pun bukan hanya menjadi perayaan religius, tetapi juga pesta kebersamaan yang memperkuat harmoni sosial.  

Tradisi Ngejot mengandung nilai sosial yang sangat tinggi. Pertama, ia menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama, terutama kaum dhuafa. Kedua, ia memperkuat hubungan antarwarga tanpa memandang latar belakang agama. Ketiga, ia menjadi simbol nyata bahwa keberagaman di Indonesia adalah kekuatan, bukan kelemahan. Filosofi berbagi dalam Islam berpadu dengan nilai gotong royong dalam budaya Bali, menghasilkan harmoni yang indah.  

Dengan adanya tradisi Ngejot, masyarakat berharap kerukunan antarumat beragama di Bali semakin kokoh. Kepala Kampung Angantiga menekankan pentingnya menjaga warisan leluhur ini agar generasi muda tetap memahami makna toleransi. “Kami ingin anak-anak kami kelak tetap melanjutkan tradisi ini, karena ini bukan hanya soal berbagi daging, tetapi juga berbagi rasa, berbagi kebahagiaan, dan menjaga persaudaraan,” tambahnya.(blt)

Posting Komentar untuk "Tradisi Ngejot Idul Adha di Kampung Angantiga, Simbol Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama di Bali"