Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perajin Tedung Bali Bertahan di Tengah Kendala Bahan Baku, BRImo Permudah Transaksi

Perajin Tedung Bali Bertahan di Tengah Kendala Bahan Baku, BRImo Permudah Transaksi


Buletindewata.id, Klungkung - Menjelang perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan, permintaan terhadap tedung Bali, payung upacara tradisional yang menjadi simbol perlindungan dan kesucian dalam tradisi Hindu Bali, melonjak hingga dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasa. Di kawasan Puri Satria Kanginan, Paksebali, Klungkung, para perajin tetap berjuang memenuhi kebutuhan masyarakat meski menghadapi keterbatasan bahan baku dan tenaga kerja. Tedung Bali berukuran satu meter menjadi produk paling diminati, dengan penjualan rata-rata mencapai 40 unit per hari, baik langsung ke pembeli maupun dikirim ke pelanggan di Kabupaten Badung, Denpasar, hingga Gianyar.  

Harga tedung Bali bervariasi sesuai ukuran. Untuk ukuran 90 cm dijual Rp65.000, ukuran 1 meter Rp85.000, dan ukuran 1,25 meter Rp125.000. Menurut para perajin, ukuran satu meter adalah yang paling laris di pasaran karena dianggap paling sesuai untuk berbagai keperluan upacara.  

Permintaan yang tinggi ini membawa berkah sekaligus tantangan. Salah satu perajin, Anak Agung Gede Anom Suwastika, mengungkapkan bahwa menjelang Galungan, permintaan tedung selalu meningkat drastis. “Kalau mendekati Galungan biasanya permintaan naik terus. Kadang-kadang terkendala bahan baku,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keterbatasan bahan baku kayu dari pohon nangka, durian, dan jenis kayu lain yang kuat membuat proses produksi sering terhambat.  

Selain bahan baku, keterbatasan tenaga kerja juga menjadi masalah. Saat ini, Gede Anom hanya mempekerjakan lima orang karyawan yang bekerja dari rumah masing-masing. “Kami berusaha menjaga kualitas, meski tenaga kerja terbatas. Yang penting tradisi ini tetap berjalan,” ungkapnya.

Perajin Tedung Bali Bertahan di Tengah Kendala Bahan Baku, BRImo Permudah Transaksi

 Untuk menjaga keberlangsungan usaha, para perajin memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI. Sebagai perajin tedung Bali, Anak Agung Gede Anom Suwastika, memperoleh pinjaman sebesar Rp100 juta untuk menambah stok bahan baku. “Bantuan KUR sangat membantu untuk modal membeli bahan dulu sebelum diputar kembali,” jelasnya. Dukungan perbankan ini menjadi solusi penting agar produksi tetap berjalan meski permintaan meningkat tajam.  

Selain dukungan modal, digitalisasi perbankan melalui aplikasi BRImo juga mempermudah transaksi antara perajin dan pelanggan. Kini, sebagian besar pembayaran dilakukan secara non-tunai, sehingga pencatatan keuangan lebih rapi dan arus kas lebih lancar. Menurut Suwastika, pembayaran digital mempermudah transaksi karena pembeli sering melakukan pembayaran sebagian terlebih dahulu sebelum barang dikirim.  

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan bahwa BRI terus mendorong usaha tradisional seperti pembuatan tedung agar tetap berkembang. “Melihat potensi permintaan yang selalu ada, terutama di Bali, aktivitas ekonomi seperti ini harus terus didorong karena mampu menggerakkan kerakyatan ekonomi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kehadiran layanan digital seperti BRImo membantu pelaku usaha dalam melakukan transaksi pembayaran, pembelian bahan baku, hingga pencatatan keuangan usaha. “Dengan catatan transaksi yang lebih rapi, pelaku usaha nantinya juga lebih mudah mengakses perbankan kredit,” tambahnya.  

Perajin Tedung Bali Bertahan di Tengah Kendala Bahan Baku, BRImo Permudah Transaksi

Tedung Bali bukan sekadar payung upacara, melainkan simbol budaya yang memiliki nilai spiritual tinggi. Dalam setiap upacara, tedung melambangkan perlindungan dari kekuatan negatif dan menjadi simbol kehormatan bagi dewa-dewi yang dipuja. Dari sisi ekonomi, usaha tedung memberikan lapangan kerja bagi masyarakat lokal, menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga perajin, dan bahkan berpotensi menjadi produk budaya bernilai jual tinggi yang diminati wisatawan.  

Meski menghadapi tantangan, para perajin di Klungkung tetap optimis. Mereka mulai menerapkan strategi keberlanjutan seperti diversifikasi bahan baku, pelatihan tenaga kerja muda, pemanfaatan digital marketing, serta inovasi desain agar tedung lebih menarik bagi generasi muda. “Kami ingin tedung Bali tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang. Tradisi ini harus tetap hidup dan bisa menjadi kebanggaan masyarakat Bali,” pungkas Gede Anom.(blt)  




Posting Komentar untuk "Perajin Tedung Bali Bertahan di Tengah Kendala Bahan Baku, BRImo Permudah Transaksi"