MUSDA XV ASITA Bali 2026, Dorong Repositioning Pariwisata Berkelanjutan untuk Atasi Overtourism dan Persaingan Tak Sehat
Buletindewata.id, Denpasar - Memasuki era baru tata kelola pariwisata yang lebih beretika dan merata, Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (DPD ASITA) Bali menggelar Press Conference Musyawarah Daerah (MUSDA) XV ASITA Bali di Kantor Bali Tourism Board, Renon, Denpasar. Mengusung tema strategis "Repositioning The Future Tourism", ajang ini menjadi titik balik penting untuk mengurai berbagai persoalan krusial, mulai dari kemacetan, ketimpangan wilayah, hingga maraknya praktik usaha ilegal.
Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra, menegaskan bahwa momentum MUSDA XV bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan pendorong utama perubahan fundamental tata kelola pariwisata Pulau Dewata."Kita harus jujur bahwa Bali sedang mengalami tantangan yang makin kompleks, seperti kepadatan di wilayah tertentu, tekanan lingkungan, hingga alih fungsi lahan. Pola lama tidak bisa lagi diteruskan. Bali butuh repositioning," ujar Winastra, Kamis (8/10).
ASITA Bali menyoroti dua pilar utama dalam pembenahan ini, meliputi Repositioning Kelembagaan dengan memperkuat soliditas ASITA sebagai wadah biro perjalanan wisata yang legal dan profesional, sekaligus menjadi mitra kritis pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi pariwisata melalui sinergi dengan KADIN Bali periode 2025–2030. Kedua, repositioning Destinasi dengan mendorong pemerataan arus wisatawan agar tidak terus menumpuk di kawasan Bali Selatan. ASITA Bali berkomitmen menggarap potensi besar di kawasan 3B (Bali Barat, Bali Utara, dan Bali Timur) guna mengurai keterpusatan beban lingkungan sekaligus mendistribusikan dampak ekonomi langsung ke UMKM, pemandu wisata, serta pelaku ekonomi kreatif lokal.
Selain pemerataan, ASITA Bali menuntut tindakan tegas terkait penegakan hukum terhadap operasional pariwisata bodong. Winastra menekankan pentingnya pengawasan adil bagi usaha yang berjalan tanpa izin resmi, baik di ranah digital maupun konvensional. "Pelaku usaha yang taat pajak, berizin, dan menyerap tenaga kerja lokal harus mendapat kepastian hukum. Aturan harus ditegakkan secara konsisten tanpa tebang pilih demi menciptakan iklim usaha yang sehat," tambahnya.
Sejalan dengan visi tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Dr. Drs. I Wayan Sumarajaya, M.Si., dalam sambutannya menyatakan apresiasi penuh serta menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung langkah strategis ASITA Bali. Menurutnya, repositioning sejalan dengan Perda No. 5/2020 tentang Standar Penyelenggaraan Kepariwisataan Budaya Bali serta Pergub No. 28/2020 dan Pergub No. 52/2021 yang berlandaskan nilai Tri Hita Karana.
"Kita harus menggeser paradigma dari quantity tourism menjadi quality and sustainable tourism. Bali tidak lagi berfokus mengejar angka kunjungan semata, tetapi mencari wisatawan yang menghargai adat budaya lokal, menjaga lingkungan, dan memberikan kontribusi ekonomi riil," tegas Sumarajaya.
Ia mengutip data hasil survei kolaborasi Dinas Pariwisata Provinsi Bali dengan Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana tahun 2026 yang mencatatkan indikator positif pariwisata Bali dimana rata-rata Lama Tinggal (Length of Stay) Wisman mencapai 13 hari. Sementara, rata-rata Pengeluaran (Spending) Wisman mencapai Rp2.539.830,- per wisatawan per hari.
Pemerintah Provinsi Bali terus memperketat tatanan perilaku wisatawan asing melalui pengawasan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 7 Tahun 2025 tentang Do's and Don'ts. Pemerintah juga mendorong ASITA mengambil peran transformatif di era digital sebagai kurator pengalaman wisata yang aman, beretika, dan legal.
Melalui sinergi erat antara pemerintah, pelaku industri, desa adat, dan masyarakat lokal, MUSDA XV ASITA Bali yang akan dilaksanakan pada Jumat 16 Oktober 2026, di InterContinental Bali Resort, Jimbaran, diharapkan mampu melahirkan keputusan strategis yang menempatkan Bali bukan hanya sebagai destinasi terpopuler, melainkan destinasi berkualitas dunia yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat Bali.
ASITA Bali menargetkan 250 BPW dari total 371 anggota ASITA Bali untuk mengikuti kegiatan ini, dan per hari ini yang sudah register sebanyak 223 peserta anggota aktif ASITA Bali, baik full member maupun associate member, serta akan dihadiri Ketua Umum DPP ASITA, Gubernur Bali, Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Walikota, serta Bupati seluruh Kabupaten di Bali, Bali Tourism Board, stakeholder pariwisata, dan mitra industri. (blt)

Posting Komentar untuk "MUSDA XV ASITA Bali 2026, Dorong Repositioning Pariwisata Berkelanjutan untuk Atasi Overtourism dan Persaingan Tak Sehat"